Spread Spektrum
1. Kinerja Spektrum Tersebar
Sistem
telekomunikasi dengan teknologi spektrum tersebar mula-mula
dikembangkan di kalangan militer karena memiliki sifat-sifat istimewa
yang cocok diterapkan pada bidang tersebut, yaitu tahan terhadap derau,
mampu menembus jamming dan kerahasiaan data yang tinggi. Sekarang ini
teknologi spektrum tersebar sudah pula dikembangkan di luar kalangan
militer. Pengembangan sistem ini terutama untuk sistem-sistem akses
jamak. Sistem spektrum tersebar memiliki keistimewaan yang khas, yaitu
sinyal yang ditransmisikan memiliki lebar pita yang jauh lebih besar
dari lebar pita informasi, dimana penyebaran spektrum tersebut dilakukan
oleh fungsi penyebar tersendiri, yang tidak tergantung pada informasi
yang disampaikan.
Konsep komunikasi spektrum tersebar didasarkan pada teori C.E. Shannon untuk kapasitas saluran, yaitu:
C = W log(1 + S/N)
dimana:
C = kapasitas kanal transmisi (bit/detik)
W = lebar pita frekuensi transmisi (Hz)
N = daya derau (watt)
S = daya sinyal (watt)
Dari
teori tersebut terlihat bahwa untuk menyalurkan informasi yang lebih
besar pada saluran berderau dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu:
1. Dengan cara konvensional, dimana W kecil dan S / N besar.
2. Cara penyebaran spektrum, dimana W besar dan S / N kecil.
Sistem spektrum tersebar yang paling banyak dipakai sekarang ini adalah DSSS
(Direct Sequence Spektrum) terbesar. Pada sistem ini, sinyal pembawa dimodulasi secara
langsung (direct) oleh data terkode. Sebagai pengkode data dipakai deret kode (code
sequence) yang memiliki sifat random.
Pada
pemancar DSSS, data dikodekan dengan deret kode berkecepatan tinggi.
Pada proses pengkodean inilah terjadi penyebaran spektrum. Sinyal
spektrum tersebar ini
kemudian
dimodulasi BPSK (Binary Phase Shift Keying) dan ditransmisikan.
Penerima DSSS terdiri dari dua bagian, yaitu bagian sinkronisasi deret
kode dan demodulator BPSK. Ketika sinkronisasi deret telah tercapai,
akan terjadi peristiwa pemampatan spektrum sinyal DSSS ke data base band
semula. Sinyal hasil pemampatan spektrum ini adalah sinyal BPSK yang
siap untuk didemodulasikan.
Teknik dasar spektrum tersebar ini ditunjukkan oleh gambar 1.
Gambar 1
Teknik dasar spektrum tersebar
Parameter-parameter yang dipakai untuk mengukur kinerja sistem spektrum tersebar adalah:
1. Probability of error
Dimana :
2. Processing gain
Processing
gain dari spektrum tersebar didefinisikan sebagai perbedaan kinerja
antara sistem yang menggunakan spektrum tersebar dengan sistem yang
tidak menggunakan spektrum tersebar. Pendekatan yang sering digunakan
untuk menyatakanprocessing gain adalah perbandingan antara lebar pita
frekuensi spektrum tersebar dengan laju bit informasi (data).
3. Jamming Margin
Kemampuan sistem spektrum tersebar untuk mengantisipasi adanya interferensi
dengan intensitas tinggi atau jammer ditentukan oleh kriteria jamming margin.
JM = G – [ Lsys + ( S / N )out ]
dimana:
JM = jamming margin (10 log JM dB)
Lsys = rugi-rugi implementasi sistem
(S / N)out = S / N keluaran penerima yang disyaratkan/diijinkan
1.2 Konfigurasi DSSS dan Pembangkitan Deretan Pseudonoise
Pada direct sequence sinyal pembawa yang telah termodulasi digital dimodulasi
lagi oleh deretan kode biner dengan kecepatan tinggi yang dibangkitkan oleh PRG
(Pseudo Random Generator). PRG tersebut dibangkitkan sedemikian rupa sehingga
menyerupai sinyal random.
Gambar 2
Pemancar BPSK DSSS
Gambar 3
Penerima BPSK DSSS
Penyebaran BPSK diperoleh dengan mengalikan hasil modulasi digital
Sd(t) = P 2 cos[ot + d(t)] dengan PN NRZ, c(t). Laju bit dari c(t) yang disebut laju
chip, jauh lebih besar dari laju bit dari data d(t). Lebar pita frekuensi sinyal BPSK adalah
2Rb. Sinyal yang ditransmisikan:
St(t) = P 2 c(t) cos [ot + d(t)]
mempunyai kecepatan yang sama dengan kecepatan kode dari PRG, BWs =
2Rc. Pada proses spreading ini terjadi penyebaran daya sinyal yang
disebar pada 10 – 1000 kali lebar pita frekuensi asli dimana rapat
spektral dayanya berkurang 10 – 1000 kali pula. Despreading dilakukan
dengan memodulasi sinyal yang diterima penerima
dengan replika kode spreading yang cocok, yaitu yang sama dengan kode spreading. Pada
proses despreading ini harus digenerasi sinyal pembawa dengan frekuensi yang sama
seperti pada modulator dan replika kode spreading yang sama frekuensi dan fasanya
(sinkronisasi). Sinyal yang diterima pada demodulator:
Sr(t) = P 2 C(t-Td)cos[ot + d(t-Td) + ]
keluaran dari mixer adalah:
Sm(t) = P 2 C(t-Td) C(t-T`d) cos[ot + d(t-Td) + ]
C`(t) = C(t-Td) adalah replika urutan kode pada PRG lokal. Jika sinkronisasi tercapai,
maka C(t) = C`(t), sehingga C(t)C`(t) = C2(t) = 1. Keluaran mixer menjadi:
Sm(t) = P 2 cos[ot + d(t)]
Setelah itu informasi diperoleh kembali dengan demodulasi fasa.
Gambar 4
Spektrum sinyal sebelum dan sesudah penyebaran
Penolakan jamming atau interferensi pada DSSS dapat dijelaskan sebagai berikut:
Misalkan sinyal jamming:
j P 2 cos(ot + )
Pada masukan penerima selain sinyal yang diinginkan juga terdapat sinyal jamming /
interferensi:
Sr(t) = P 2 C(t)cos[ot + d(t)] + j P 2 cos(ot + )
Apabila C`(t) pada PRG lokal sinkron dengan C(t), maka keluaran mixer menjadi:
Sm(t) = P 2 cos[ot + d(t)] + j P 2 C(t)cos(ot + )
Sinyal
informasi mengalami despreading dan kerapatan spektral dayanya naik
kembali, sedangkan jamming tidak mengalami despreading sehingga pita
frekuensinya melebar dan spektral dayanya menurun. Sesudah melalui BPF,
daya jamming yang masuk dalam sinyal sudah sangat kecil dan tidak
berarti lagi. Deretan pseudonoise sesuai dengan namanya, adalah deretan
kode biner yang menunjukkan sifat-sifat random yang mirip dengan derau.
Deretan pseudonoise ini dihasilkan oleh PRG yang pada umumnya dibentuk
dari susunan resister geser (shift register) dimana beberapa keluaran
register geser tersebut diumpanbalikkan ke masukan register geser
pertama melalui sebuah parity generator (berupa gerbang EXOR) sedemikian
rupa sehingga keluaran register geser terakhir menghasilkan deretan
kode dengan panjang perioda deretan maksimal dan bersifat ‘random’
(pseudorandom).
Hubungan
umpan balik yang berbeda akan menghasilkan keluaran kode yang berbeda
pula. Periode kode yang dibentuk oleh generator PN adalah:
TPN = LTc
dimana Tc adalah durasi chip dan L adalah jumlah chip dalam suatu perioda
L = 2m – 1
Alasan penting digunakannya deretan kode semacam ini adalah karakteristik
otokorelasinya yang hampir menyerupai derau.
http://blog-e-wongmalang.blogspot.com/2008/12/spread-spektrum.html
Komentar
Posting Komentar